https://www.riauakses.com

  • Beranda
  • Pilihan
  • Riau
  • Lancang Kuning
    • Pekanbaru
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Kampar
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Rokan Hulu
    • Rokan Hilir
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Kepulauan Meranti
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Politik
  • Hukum
  • Dunia
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lingkungan
    • Sumber Daya Alam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Video

  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Tentang
  • Pedoman
  • Redaksi

https://www.riauakses.com

Iklan Atas

https://www.riauakses.com

  • ";
  • Riau
  • Lancang Kuning
    • Pekanbaru
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Kampar
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Rokan Hulu
    • Rokan Hilir
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Kepulauan Meranti
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Politik
  • Hukum
  • Dunia
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lingkungan
    • Sumber Daya Alam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Video

Terbaru

Trending

Pilihan

Video

Home / Nasional /

Sudah Dipadamkan Berkali-kali, Karhutla Riau Masih Suka Main Petak Umpet

Minggu, 13 September 2026 | 10:20 WIB  
Editor : Krisman
Sudah Dipadamkan Berkali-kali, Karhutla Riau Masih Suka Main Petak Umpet

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. (sumber: istimewa)

JAKARTA, RiauAkses.com — Api di Riau boleh terlihat jinak, tetapi urusan karhutla belum layak diberi ucapan selamat. Gambut punya kelakuan berbeda karena bara dapat bersembunyi di bawah permukaan. Saat permukaan tampak aman, api justru bisa menunggu kesempatan untuk muncul kembali.

BNPB kini menempatkan Riau bersama lima provinsi lain sebagai wilayah prioritas penanganan karhutla. Enam wilayah tersebut meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pemerintah menggabungkan pasukan darat dengan kekuatan udara untuk mengejar api.

Sampai 6 September 2026, kebakaran di enam provinsi prioritas mencapai 72.009,10 hektare. Masih terdapat 939,45 hektare yang membutuhkan pemadaman intensif. Riau menyumbang 283,35 hektare area yang masih dalam proses penanganan.

Angka tersebut membuat strategi pemadaman tidak bisa sekadar mengandalkan hujan. BNPB mengerahkan 43.481 personel gabungan untuk operasi darat. Kekuatan itu berasal dari BNPB, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, serta relawan yang bergerak di lapangan.

Di udara, puluhan armada disiapkan untuk membantu operasi. BNPB mengoperasikan 19 armada patroli atau pendukung modifikasi cuaca dan 36 helikopter water bombing. Tiga helikopter Chinook juga disiapkan sebagai tambahan kekuatan untuk menjangkau kawasan sulit.

Namun, senjata paling canggih pun tetap berhadapan dengan musuh yang tidak kelihatan. Api di gambut dapat menyusup jauh ke bawah permukaan. Karena itu, pemadaman harus dilanjutkan dengan pembasahan dan pendinginan. Petugas tidak cukup hanya mengejar nyala api.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan perbedaan antara hotspot dan fire spot sangat penting. Hotspot merupakan indikasi panas dari pemantauan satelit. Fire spot merupakan titik kebakaran yang sudah ditemukan dan diverifikasi langsung petugas.

Riau sendiri sudah mengalami perjalanan panjang sepanjang 2026. Hingga 23 Agustus, BPBD Riau mencatat 10.514 hotspot sejak Januari. Sebanyak 521 titik telah terkonfirmasi menjadi fire spot. Luas lahan terbakar mencapai 16.277,50 hektare pada periode tersebut. 

Presiden Prabowo sebelumnya menyebut penanganan Riau berhasil menekan area terbakar secara signifikan. Namun, sekitar 900 hektare masih tersisa untuk ditangani. Pesannya sederhana, api boleh berkurang tetapi kewaspadaan tidak boleh ikut menguap. 

Situasi tersebut terasa makin rumit karena Riau menghadapi musim kemarau dengan pengaruh El Niño kuat. BNPB sebelumnya menetapkan Agustus hingga September sebagai periode risiko tinggi karhutla. Operasi darat akhirnya menjadi tulang punggung ketika kondisi awan tidak mendukung modifikasi cuaca. 

Suharyanto mengingatkan operasi udara hanya membantu pekerjaan pasukan darat. Ketika hujan sulit dipancing, pasukan harus masuk langsung menuju sumber api. Di sinilah drama karhutla berubah menjadi pekerjaan fisik yang panjang dan melelahkan.

Cerita paling menjengkelkan justru muncul setelah api terlihat padam. Asap masih dapat keluar dari kawasan yang dianggap selesai. Bara bawah tanah juga bisa kembali menyala. Karhutla akhirnya bukan pertandingan sekali selesai, melainkan permainan panjang melawan panas, angin, dan gambut.

Riau pun belum boleh merasa menang. Penurunan api memang kabar baik, tetapi lahan kering tetap menyediakan panggung bagi kebakaran berikutnya. Selama bara belum benar-benar dingin, petugas harus terus berpatroli. Api mungkin berhenti berlari, tetapi belum tentu berhenti bernapas. ***


TOPIK TERKAIT

# Karhutla Riau# BNPB# El Nino# Lahan gambut# Kebakaran hutan dan lahan
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • X-Fire Diuji di Pelalawan, Polda Riau Bidik Pemadaman Lahan Gambut Tanpa Bara Tersisa

    Riau•
    Jumat, 11/09/2026 | 15:40 WIB
    PELALAWAN, RiauAkses.com — Pemandangan paling menipu dari kebakaran gambut adalah tanah yang
  • Rentetan Kabut Asap Riau Sejak 1997, Jarak Pandang Pernah Anjlok di Bawah 100 Meter

    Riau•
    Sabtu, 22/08/2026 | 23:56 WIB
    RiauAkses - Riau sudah berulang kali berhadapan dengan kabut asap dalam episode besar sejak
  • Riau Darurat! 126 Titik Panas Muncul Sekaligus, Pelalawan Paling Parah

    Riau•
    Minggu, 22/03/2026 | 12:02 WIB
    RiauAkses.com, Pekanbaru - Lonjakan titik panas kembali mengkhawatirkan di Provinsi Riau. Badan
  • Karhutla Terus Jadi Ancaman, Pemprov Riau Minta Bantuan Helikopter dan Operasi Modifikasi Cuaca ke Pusat

    Riau•
    Selasa, 10/02/2026 | 09:13 WIB
    RiauAkses.Com, Riau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau
  • Dua Heli Dikirim ke Rohul, Padamkan Karhutla di Perbukitan

    Riau•
    Rabu, 27/08/2025 | 07:14 WIB
    RiauAkses.com, Rokan Hulu - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terjadi di kawasan perbukitan
Banner Ramadhan TAF - P07

TRENDING

  • Cuaca Buruk Balikkan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa, 1 Tewas dan 157 Orang Masih Hilang

    Cuaca Buruk Balikkan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa, 1 Tewas dan 157 Orang Masih Hilang

    Minggu, 13/09/2026 | 11:25 WIB
  • Landasan SSK II Tak Kelihatan Jelas, Lion Air Memilih Terbang ke Batam

    Landasan SSK II Tak Kelihatan Jelas, Lion Air Memilih Terbang ke Batam

    Minggu, 13/09/2026 | 10:26 WIB
  • Leasing Mau Tarik Mobil di Gerbang Tol, Malah Polisi Menarik Sopir Sigra ke Kantor

    Leasing Mau Tarik Mobil di Gerbang Tol, Malah Polisi Menarik Sopir Sigra ke Kantor

    Minggu, 13/09/2026 | 11:54 WIB
  • Polsek Pinggir Usut Penguasaan 2,5 Hektare Kawasan Hutan Produksi

    Polsek Pinggir Usut Penguasaan 2,5 Hektare Kawasan Hutan Produksi

    Jumat, 11/09/2026 | 16:02 WIB
  • Pencurian Pipa PHR Digagalkan Security, Kerugian Ditaksir Rp24 Juta

    Pencurian Pipa PHR Digagalkan Security, Kerugian Ditaksir Rp24 Juta

    Jumat, 11/09/2026 | 15:57 WIB
  • Polsek Bangko Pusako Tangkap Dua Terduga Pelaku Penyalahgunaan Narkotika

    Polsek Bangko Pusako Tangkap Dua Terduga Pelaku Penyalahgunaan Narkotika

    Jumat, 11/09/2026 | 15:19 WIB
  • X-Fire Diuji di Pelalawan, Polda Riau Bidik Pemadaman Lahan Gambut Tanpa Bara Tersisa

    X-Fire Diuji di Pelalawan, Polda Riau Bidik Pemadaman Lahan Gambut Tanpa Bara Tersisa

    Jumat, 11/09/2026 | 15:40 WIB
  • IHSG Jatuh ke 6.484, Investor Menanti Data Inflasi Amerika Serikat

    IHSG Jatuh ke 6.484, Investor Menanti Data Inflasi Amerika Serikat

    Jumat, 11/09/2026 | 09:47 WIB
Banner STMIK In Pekanbaru - P09
    • Ikuti Kami di:



  • Disclaimer     Kontak Kami     Tentang     Pedoman     Redaksi    

    RiauAkses.com - All Right Reserved
    Desain by : Aditya