Home / Ekonomi /
IHSG Jatuh ke 6.484, Investor Menanti Data Inflasi Amerika Serikat
Ilustrasi. (sumber: istimewa)
JAKARTA, RiauAkses.com – IHSG membuka perdagangan Jumat, 11 September 2026, dalam tekanan kuat. Indeks langsung bergerak turun setelah bel perdagangan dimulai. Beberapa menit kemudian, pelemahan semakin dalam hingga menembus level 6.500.
Pada awal sesi, IHSG sempat turun 36,55 poin atau 0,55 persen. Indeks berada di level 6.552,79. Tekanan kemudian meningkat ketika aksi jual meluas ke berbagai kelompok saham.
Sekitar sepuluh menit perdagangan berjalan, IHSG sudah anjlok 1,59 persen. Indeks kehilangan 104,87 poin dan berada di level 6.484. Angka tersebut menjadi sinyal keras bagi investor pada akhir pekan.
Tekanan terlihat dari jumlah saham yang bergerak turun. Sebanyak 495 saham melemah, sedangkan hanya 89 saham menguat. Ada pula 120 saham yang masih bertahan tanpa perubahan harga.
Nilai transaksi juga bergerak cepat sejak awal sesi. Volume perdagangan mencapai 5,86 miliar saham. Nilai transaksi menembus Rp2,6 triliun hanya dalam sekitar sepuluh menit.
Namun, penyebab utama tekanan bukan hanya berasal dari dalam negeri. IHSG sedang terseret gelombang negatif bursa global. Bursa Asia Pasifik hampir seluruhnya bergerak melemah pada perdagangan Jumat.
Kospi Korea Selatan menjadi salah satu indeks yang mengalami tekanan paling besar. Indeks tersebut turun sekitar 2,7 persen. Nikkei Jepang juga melemah sekitar 2,6 persen.
Bursa Australia ikut bergerak turun sekitar 1 persen. Tekanan kawasan muncul setelah Wall Street sebelumnya menghadapi tekanan jual. Harga energi menjadi salah satu pemicu utama perubahan sentimen tersebut.
Minyak mentah menjadi sumber kegelisahan baru bagi investor. WTI kembali menembus US$100 per barel. Brent juga bergerak di atas US$108 per barel.
Kenaikan tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi. Efeknya dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi.
Konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan minyak. Ketidakpastian pasokan energi membuat pelaku pasar meningkatkan premi risiko. Investor kemudian memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Tekanan minyak juga memiliki efek lanjutan terhadap kebijakan bank sentral. Inflasi yang kembali meningkat dapat mempersempit ruang pelonggaran moneter. Skenario tersebut menjadi masalah bagi pasar saham.
BRI Danareksa Sekuritas melihat IHSG masih berada dalam kondisi volatil. Risiko eskalasi konflik dan kenaikan minyak menjadi perhatian utama. Selama indeks belum kembali ke atas 6.600, tekanan masih berpotensi berlanjut.
Level 6.475 menjadi salah satu wilayah yang perlu dicermati. Jika kembali ditembus, IHSG berpotensi bergerak menuju 6.375. Sebaliknya, level 6.600 menjadi resistance penting bagi pemulihan.
Phintraco Sekuritas juga melihat kenaikan minyak sebagai ancaman. Harga energi tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi. Kondisi tersebut kemudian berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Masalah berikutnya datang dari Amerika Serikat. Yield Treasury 10 tahun bergerak mendekati 5 persen. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023.
Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik. Pada saat yang sama, aset negara berkembang menghadapi tekanan. IHSG pun tidak luput dari perubahan preferensi investor global.
Data PPI Amerika turut memperkuat kekhawatiran tersebut. Inflasi produsen naik 0,4 persen secara bulanan pada Agustus. Secara tahunan, angkanya mencapai 5,4 persen.
Pasar kini menunggu data CPI Amerika Serikat. Angka inflasi konsumen tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting. Investor menggunakannya untuk membaca arah kebijakan Federal Reserve.
Pertemuan The Fed dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin mencapai sekitar 71 persen. Ekspektasi tersebut meningkat dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Jika CPI lebih tinggi dari perkiraan, tekanan terhadap IHSG bisa semakin besar. Dolar berpotensi menguat dan yield obligasi dapat kembali naik. Investor berisiko semakin agresif mengurangi aset saham.
Namun, skenario sebaliknya juga masih terbuka. Inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap pasar. Investor mungkin kembali memburu saham jika peluang kebijakan moneter lebih ketat mengecil.
CGS International Sekuritas memperkirakan IHSG masih bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah. Support berada pada kisaran 6.520 hingga 6.450. Resistance berada di sekitar 6.660 hingga 6.730.
Pandangan tersebut menunjukkan IHSG sedang berada di persimpangan. Jika indeks gagal bertahan di area support, tekanan teknikal dapat semakin besar. Namun, pemulihan tetap terbuka jika sentimen global mulai membaik.
Arus dana asing juga menjadi faktor penting dalam perdagangan kali ini. Aksi jual investor asing dapat mempercepat tekanan pada saham berkapitalisasi besar. Situasi tersebut membuat pemulihan IHSG menjadi lebih berat.
Panin Sekuritas melihat sejumlah risiko masih menghantui pasar. Ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, pelemahan komoditas tertentu, dan arus dana asing menjadi perhatian. Semua faktor tersebut dapat membuat volatilitas meningkat.
Meski begitu, tidak semua sektor otomatis kehilangan peluang. Kenaikan harga energi dapat memberi keuntungan bagi sejumlah emiten komoditas. Investor kini harus lebih selektif membaca dampak kenaikan minyak terhadap setiap sektor.
Perdagangan Jumat akhirnya menjadi ujian bagi daya tahan IHSG. Level 6.500 sudah ditembus pada awal sesi. Kini perhatian pasar bergeser pada kemampuan indeks menemukan support baru.
Data inflasi Amerika menjadi kartu berikutnya. Angka tersebut bisa mengubah arah dolar, obligasi, dan saham sekaligus. Jika hasilnya mengejutkan pasar, pergerakan IHSG berpotensi semakin liar.
Untuk sementara, IHSG masih berada dalam posisi defensif. Level 6.600 menjadi pintu pemulihan, sedangkan 6.475 dan 6.375 menjadi area risiko. Investor kini menunggu apakah pasar global akan memberi kesempatan untuk bangkit atau justru membuka jalan menuju koreksi berikutnya. ***
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
Harga Minyak Tembus US$108, Rupiah Tertekan ke Rp17.570 per Dolar AS
JAKARTA, RiauAkses.com – Rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Jumat, 11Cek Tanggal dan Syaratnya! Kolaborasi BEI Wilayah Riau dan Maybank Sekuritas Indonesia Bakal Gelar Literasi Pasar Modal
RiauAkses.com, Pekanbaru - Bursa Efek Indonesia (BEI) Wilayah Riau secara langsung menyatakan




Komentar Via Facebook :