Home / Ekonomi /
Harga Minyak Tembus US$108, Rupiah Tertekan ke Rp17.570 per Dolar AS
Ilustrasi. (sumber: istimewa)
JAKARTA, RiauAkses.com – Rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Jumat, 11 September 2026. Namun kali ini tekanan tidak hanya datang dari penguatan dolar AS. Harga minyak dunia yang melonjak ikut membuat posisi rupiah semakin sulit.
Mengacu data perdagangan pagi, rupiah bergerak di kisaran Rp17.570 per dolar AS. Nilai tersebut melemah sekitar 0,23 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Sehari sebelumnya, rupiah berakhir di sekitar Rp17.530 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Pasar valuta asing sedang menghadapi perubahan besar dalam ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Dolar pun kembali mendapatkan tenaga dari ketidakpastian global.
Salah satu sumber masalah datang dari pasar minyak. Brent kembali naik sekitar 1,2 persen dalam perdagangan Asia. Harganya mencapai US$108,96 per barel setelah sebelumnya menembus level US$100.
Kenaikan harga minyak membawa konsekuensi lebih panjang bagi pasar keuangan. Energi mahal dapat meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi itu kemudian memengaruhi perkiraan investor terhadap arah suku bunga Amerika Serikat.
Data indeks harga produsen AS menjadi pemicu tambahan. Harga produsen meningkat 0,4 persen pada Agustus. Kenaikan tersebut memperkuat kekhawatiran inflasi belum sepenuhnya jinak.
Pasar kemudian menaikkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitasnya mencapai sekitar 71,3 persen. Sebelumnya, peluang tersebut masih berada sekitar 61 persen.
Perubahan ekspektasi itu membuat dolar AS kembali menjadi magnet. Investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman ketika risiko meningkat. Mata uang negara berkembang seperti rupiah akhirnya ikut terkena dampaknya.
Tony Sycamore dari IG melihat penguatan dolar berkaitan dengan meningkatnya penghindaran risiko. Menurutnya, kenaikan energi ikut memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut membuat dolar mendapatkan dukungan ganda.
Tekanan berikutnya muncul dari pasar obligasi Amerika. Yield Treasury 10 tahun naik menuju 4,965 persen. Posisi tersebut tinggal sedikit lagi dari level psikologis 5 persen.
Yield tinggi membuat aset berbasis dolar semakin menarik. Pada saat bersamaan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat meningkat. Investor memiliki alasan lebih besar untuk menahan dana dalam aset dolar.
Rupiah juga belum mendapatkan dorongan kuat dari dalam negeri. Penjualan ritel memang tumbuh secara tahunan. Namun, kinerja bulanan masih menunjukkan kontraksi.
Penjualan ritel secara bulanan turun 0,1 persen. Sebelumnya, indikator tersebut masih tumbuh 0,7 persen pada Juni. Normalisasi permintaan setelah libur sekolah menjadi salah satu penyebab pelemahan tersebut.
Situasi ini membuat rupiah harus bertarung dengan sentimen eksternal. Ketika minyak naik, inflasi kembali ditakuti. Ketika inflasi ditakuti, peluang suku bunga tinggi ikut meningkat.
Pasar juga menunggu data inflasi konsumen Amerika Serikat. Data tersebut akan menjadi salah satu penentu arah perdagangan menjelang rapat Federal Reserve. Pertemuan The Fed dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September.
Jika inflasi konsumen AS kembali tinggi, dolar berpotensi mendapatkan tenaga baru. Pasar bisa semakin yakin terhadap kenaikan suku bunga. Rupiah pun berpotensi kembali menghadapi tekanan.
Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi rupiah. Ekspektasi kenaikan suku bunga bisa mereda. Dolar berpotensi kehilangan sebagian kekuatannya.
Dari sisi teknikal, rupiah masih mempunyai peluang melakukan pembalikan arah. Area Rp17.510 menjadi level penting untuk ditembus. Jika berhasil dilewati, target berikutnya berada di sekitar Rp17.500.
Penguatan lebih jauh dapat membawa rupiah menuju Rp17.400 per dolar AS. Namun, peluang tersebut masih bergantung pada sentimen pasar global. Harga minyak dan kebijakan The Fed menjadi dua faktor utama.
Jika rupiah kembali melemah, area Rp17.600 menjadi batas penting. Penembusan level tersebut membuka peluang menuju Rp17.700. Pasar akan membaca gerakan itu sebagai tanda tekanan semakin kuat.
Dengan kondisi tersebut, masalah rupiah sebenarnya bukan sekadar dolar yang menguat. Ada rantai tekanan dari minyak, inflasi, yield obligasi, hingga kebijakan bank sentral. Semua bergerak bersamaan dan membuat ruang gerak rupiah semakin sempit.
Akhir pekan ini pun menjadi penting bagi pasar domestik. Investor menunggu data inflasi Amerika dengan perhatian tinggi. Satu angka ekonomi dapat mengubah arah dolar sekaligus menentukan nasib rupiah.
Untuk sementara, rupiah masih berada di sisi yang kurang menguntungkan. Harga minyak belum turun, yield Treasury mendekati 5 persen, dan peluang kenaikan suku bunga meningkat. Rupiah akhirnya harus menunggu kabar dari Amerika sebelum bisa mencari napas lebih panjang. ***
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
Belajar dari Kehilangan Sipadan dan Ligitan, Riau Luncurkan Kurikulum Cinta Rupiah di Sekolah
RiauAkses.com, Pekanbaru - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau bersama Bank Indonesia (BI)



Komentar Via Facebook :