Home / Riau /
Rentetan Kabut Asap Riau Sejak 1997, Jarak Pandang Pernah Anjlok di Bawah 100 Meter
Karhutla Riau sejak tahun 1997, Foto: RiauAkses/Create AI
RiauAkses - Riau sudah berulang kali berhadapan dengan kabut asap dalam episode besar sejak 1997–1998. Catatan ilmiah BMKG menyebut kebakaran hutan di Riau sudah tercatat sejak 1982, sedangkan periode 1997–1998 disebut sebagai yang terbesar dan berkaitan dengan El Niño. Saat kebakaran membesar, dampaknya tidak berhenti di titik api. Jarak pandang anjlok, udara memburuk, sekolah diliburkan dan aktivitas penerbangan ikut terganggu.
Jejak itu muncul kembali pada 2013, 2014, 2015 dan 2019. Pada 2026, karhutla kembali menjadi perhatian pemerintah. BNPB mencatat luas lahan terbakar di Riau mencapai 15.676,72 hektare hingga 12 Agustus 2026, dengan 46 titik panas tingkat kepercayaan sedang pada laporan tersebut.
Skalanya memang berubah-ubah. Tetapi catatan pemerintah menunjukkan dampak yang berulang: jarak pandang turun hingga kurang dari 100 meter, sekolah diliburkan, puluhan ribu orang terserang ISPA dan jutaan jiwa terpapar asap. Pada 2014 saja, BNPB mencatat sekitar 58.000 orang terserang ISPA dan hampir 6 juta jiwa terpapar asap dalam periode 26 Februari–4 April.
Berikut rekam jejak episode penting kabut asap Riau.
1997–1998: Episode Besar yang Membekas
Periode 1997–1998 menjadi salah satu episode besar kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kondisi kering yang berkaitan dengan El Niño memperbesar risiko kebakaran. Episode ini kemudian menjadi salah satu pengalaman penting dalam penanganan bencana asap di kawasan.
Asap berkembang menjadi persoalan lintas wilayah Asia Tenggara. Namun, karena seri harian dampak Riau untuk periode tersebut tidak tersedia lengkap dalam arsip resmi yang dapat diverifikasi, angka jarak pandang dan jumlah korban tidak dicantumkan di sini.
Untuk episode 1997–1998, seri harian jarak pandang Riau yang lengkap tidak tersedia dalam arsip daring resmi yang dapat diverifikasi. Karena itu, tulisan ini tidak mencantumkan angka visibility yang tidak memiliki dasar pengamatan resmi.
2013: Jarak Pandang Jatuh di Bawah 100 Meter
Pada 21 Juni 2013, BNPB mencatat jarak pandang di Riau sempat turun hingga kurang dari 100 meter akibat kabut asap.
Kondisi itu menunjukkan betapa ekstremnya episode tersebut. Asap tidak lagi hanya menjadi persoalan di lokasi kebakaran, tetapi sudah mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi udara.
2014: Asap Menyerang Sejak Februari, 6 Juta Jiwa Terpapar
Tahun 2014 menjadi salah satu episode paling berat. BNPB bahkan sudah mencatat bencana asap di Riau sejak Januari–Februari, lebih awal dari pola yang biasanya mulai Mei–Juni.
BNPB mencatat selama 26 Februari hingga 4 April 2014, sekitar 21.914 hektare lahan terbakar, termasuk 2.398 hektare cagar biosfer. Sekitar 58.000 orang terserang ISPA, sekolah diliburkan dan hampir 6 juta jiwa terpapar asap. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp20 triliun.
Pada 2014, BNPB juga mencatat jarak pandang di sejumlah wilayah Riau turun akibat asap. Dalam laporan 21 Juni 2014, jarak pandang tercatat sekitar 3 kilometer di Rengat, 6 kilometer di Pelalawan dan Dumai, serta 8 kilometer di Pekanbaru.
Artinya, episode 2014 bukan hanya berlangsung pada satu gelombang kebakaran. Risiko kembali meningkat ketika kondisi kering datang.
2015: 169.119 Hektare Terbakar, Riau Kembali Disandera Asap
Setahun kemudian, persoalan yang sama kembali membesar. BNPB mencatat luas hutan dan lahan terbakar di Sumatera pada periode 1 Juli–20 Oktober 2015 mencapai lebih dari 800.000 hektare, dengan Riau menyumbang 169.119 hektare.
LAPAN yang dikutip BNPB menghitung lebih dari 800 ribu hektare hutan dan lahan terbakar di Sumatera pada periode 1 Juli–20 Oktober 2015. Untuk Riau, luasnya mencapai 169.119 hektare.
Pada 12 Juli 2015, BNPB mencatat jarak pandang turun menjadi sekitar 3 kilometer di Pekanbaru, 3 kilometer di Pelalawan dan 1 kilometer di Dumai.
BNPB juga menjalankan operasi modifikasi cuaca. Pada Juli 2015, operasi hujan buatan telah dilakukan di Riau sebagai bagian dari penanganan karhutla.
BNPB dalam laporan penanganan 2015 mencatat operasi pemadaman dan modifikasi cuaca terus dilakukan untuk mengatasi karhutla dan asap.
2019: Asap Kembali Mengganggu Aktivitas
Empat tahun kemudian, karhutla kembali menjadi persoalan besar di Riau. Pemerintah daerah kembali mengambil langkah untuk mengurangi paparan asap, termasuk menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Kajian ilmiah BMKG mengenai periode tersebut menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi black carbon di Riau dan hubungan positif dengan jumlah hotspot. Untuk menghindari klaim berlebihan, angka dampak kesehatan dan jarak pandang 2019 tidak dicantumkan tanpa dokumen resmi yang secara spesifik mendukungnya.
Setelah 2019: Api Tetap Berulang, Asap Tidak Selalu Pekat
Karhutla tidak berhenti setelah 2019. Namun, keberadaan titik panas tidak otomatis berarti seluruh Pekanbaru berada dalam kondisi kabut asap pekat.
Sebaran asap sangat bergantung pada lokasi kebakaran, luas area terbakar, kondisi gambut, arah angin, kelembapan dan hujan.
Karena itu, data hotspot harus dibaca bersama kondisi cuaca dan pengamatan kualitas udara maupun jarak pandang di wilayah yang terdampak.
2026: Lebih dari 15.600 Hektare Terbakar, Riau Kembali Jadi Prioritas
Tahun 2026, Riau kembali menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla pemerintah.
BNPB mencatat luas lahan terbakar Riau mencapai 15.676,72 hektare hingga 12 Agustus 2026, dengan 46 titik panas terdeteksi pada laporan tersebut.
Dalam perkembangan yang sama, BNPB terus mendorong mitigasi melalui operasi modifikasi cuaca dan langkah penanganan lainnya menghadapi musim kering.
Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla 2026 bukan sekadar munculnya beberapa titik api. Luas lahan terbakar sudah mencapai lebih dari 15 ribu hektare.
Namun, data luas terbakar tidak otomatis menggambarkan kondisi udara di Pekanbaru pada setiap waktu. Sebaran asap tetap dipengaruhi lokasi kebakaran dan kondisi atmosfer.
Dari 1997 ke 2026, Jejak Asap Itu Masih Ada
Jika ditarik dari 1997 hingga 2026, rekam jejaknya menunjukkan pola yang berulang.
1997–1998: kebakaran besar terjadi dalam kondisi El Niño dan berkembang menjadi bencana asap kawasan.
2013: jarak pandang di Riau sempat turun hingga kurang dari 100 meter.
2014: 21.914 hektare lahan terbakar dalam periode 26 Februari–4 April, sekitar 58.000 orang terserang ISPA dan hampir 6 juta jiwa terpapar asap.
2015: luas lahan terbakar di Riau mencapai 169.119 hektare dalam perhitungan LAPAN untuk periode 1 Juli–20 Oktober.
2019: karhutla kembali menjadi persoalan dan memicu langkah penanganan untuk mengurangi dampak asap.
2026: luas lahan terbakar mencapai 15.676,72 hektare hingga 12 Agustus dan Riau kembali menjadi wilayah prioritas penanganan.
Karhutla Riau selama hampir tiga dekade meninggalkan satu pola yang sama: ketika kebakaran membesar dan kondisi atmosfer mendukung, asap bisa berubah menjadi gangguan langsung bagi kehidupan masyarakat.
Jarak pandang bisa jatuh. Sekolah bisa diliburkan. Penerbangan dapat terganggu. Pada 2014, BNPB mencatat puluhan ribu orang terserang ISPA dan hampir 6 juta jiwa terpapar asap.
Pada 2026, angkanya memang belum menyamai episode terburuk masa lalu. Tetapi luas lahan terbakar yang sudah lebih dari 15.600 hektare menunjukkan persoalannya belum selesai.
Riau pernah dihantui asap dalam skala besar. Rekam jejaknya menunjukkan, setiap musim kering datang, ancaman itu kembali harus dihadapi. (R-07)
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
323 Dokumen Diseret dari RSD Madani, Polda Riau Mulai Bongkar Dugaan Korupsi
PEKANBARU, RiauAkses - Suasana di Rumah Sakit Daerah (RSD) Madani Pekanbaru mendadak memanas.18 Aset Eks Caltex Diburu Pekanbaru, Ada Tanah TPU hingga Sekolah
PEKANBARU, RiauAkses - Pemerintah Kota Pekanbaru memperjuangkan hibah sekitar 18 aset eks Caltex diCek Kesehatan Gratis Bongkar Penyakit yang Banyak Diderita Warga Pekanbaru
PEKANBARU, RiauAkses - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Pekanbaru mulaiPekanbaru Jadi Salah Satu Lokasi, Bareskrim Bongkar Judol Internasional "Ujangbet"
RiauAkses - Bareskrim Polri mengungkap jaringan judi online internasional bernamaNasib Pengelola Pasar Bawah di Ujung Tanduk, Pemko Pekanbaru Bahas Kelanjutan Revitalisasi Pekan Depan
RiauAkses - Nasib PT Ali Akbar Sejahtera (AAS) selaku pengelola Pasar Wisata Pasar Bawah







Komentar Via Facebook :