https://www.riauakses.com

  • Beranda
  • Pilihan
  • Riau
  • Lancang Kuning
    • Pekanbaru
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Kampar
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Rokan Hulu
    • Rokan Hilir
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Kepulauan Meranti
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Politik
  • Hukum
  • Dunia
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lingkungan
    • Sumber Daya Alam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Video

  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Tentang
  • Pedoman
  • Redaksi

https://www.riauakses.com

Iklan Atas

https://www.riauakses.com

  • ";
  • Riau
  • Lancang Kuning
    • Pekanbaru
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Kampar
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Rokan Hulu
    • Rokan Hilir
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Kepulauan Meranti
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Politik
  • Hukum
  • Dunia
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lingkungan
    • Sumber Daya Alam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Video

Terbaru

Trending

Pilihan

Video

Home / Riau /

Puluhan Warga Dihajar di Kebun Sawit Rohul, Konflik 2.000 Hektare Berujung Berdarah

Minggu, 16 Agustus 2026 | 11:45 WIB  
Editor : PP. Sianturi
Puluhan Warga Dihajar di Kebun Sawit Rohul, Konflik 2.000 Hektare Berujung Berdarah

Puluhan Warga Dihajar di Kebun Sawit Rohul, Konflik 2.000 Hektare Berujung Berdarah, Foto: Istimewa

ROKAN HULU, RiauAkses - Konflik penguasaan lahan perkebunan sawit di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, kembali memanas. Kali ini, persoalan yang telah lama bergulir berubah menjadi aksi kekerasan yang menyebabkan puluhan warga terluka.

Peristiwa berdarah itu terjadi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Puluhan pekerja yang sedang berada di kawasan kebun tiba-tiba didatangi rombongan menggunakan sejumlah kendaraan.

 

Menurut keterangan korban, rombongan tersebut datang menggunakan tiga truk Colt Diesel dan dua mobil double cabin. Kedatangan mereka kemudian berubah menjadi penyerangan.

 

Kayu dan benda berbahan besi disebut digunakan untuk menghantam para pekerja yang berada di lokasi.

 

Gunawan, 31 tahun, salah seorang korban, mengatakan dirinya sedang beristirahat di mess setelah bekerja ketika situasi mendadak berubah menjadi kacau.

 

"Waktu itu kami sedang duduk-duduk di mess habis bekerja," ujar Gunawan.

 

Ia mengaku dipukul menggunakan kayu dan benda berbahan besi. Hidung serta tangannya mengalami luka dan harus mendapat perawatan.

 

Tak hanya dipukul, Gunawan juga mengaku mendapat ancaman menggunakan senjata api. Dua telepon selulernya disebut hilang dalam kejadian tersebut.

 

"Saya juga diancam pakai senjata api, dua ponsel saya dijarah," katanya.

 

Korban lainnya, Rizaldi, 44 tahun, mengalami luka terbuka di bagian kepala. Tangan dan matanya juga mengalami cedera.

 

Rizaldi mengatakan dirinya dipukul menggunakan balok kayu dan mendapat tendangan di bagian mata. Ia bahkan mengaku sempat diseret ketika kondisinya sudah tidak berdaya.

 

"Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu," ujar Rizaldi.

 

Dalam kondisi tersebut, Rizaldi mengaku hanya bisa meminta ampun.

 

"Kami hanya bisa bilang aduh, aduh, ampun, ampun, Pak," katanya.

 

25 Orang Disebut Terluka

 

Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz, menyebut sekitar 25 orang mengalami luka akibat kejadian tersebut. Bahkan, satu korban disebut berada dalam kondisi kritis.

 

Sementara itu, sekitar 28 pekerja lainnya masih berada di kawasan kebun.

 

Para korban kemudian dibawa keluar dari kawasan perkebunan. Saat kendaraan melintas di sekitar Polsek Tambusai Utara, korban disebut berteriak meminta pertolongan.

 

Sehari setelah kejadian, masyarakat melaporkan kasus tersebut kepada polisi. Sejumlah korban juga menjalani visum untuk mendokumentasikan luka yang mereka alami.

 

Namun, perkara ini tidak hanya menyangkut dugaan penganiayaan.

 

Di balik aksi kekerasan tersebut terdapat konflik penguasaan lahan perkebunan yang disebut mencapai sekitar 2.000 hektare, tepatnya di Afdeling 19 dan Afdeling 21.

 

Lahan tersebut diklaim menjadi sumber kehidupan sekitar 1.015 warga.

 

Menurut Abdul Aziz, masyarakat sebelumnya mempercayakan pengelolaan lahan kepada PT Torganda melalui pola kemitraan Bapak Angkat. Warga kemudian tergabung dalam Koperasi Karya Bakti.

 

Persoalan semakin rumit setelah Satgas Penertiban Kawasan Hutan melakukan penyitaan pada 2025. Pengelolaan lahan kemudian disebut beralih kepada PT Agrinas Palma Nusantara.

 

Sejak perubahan pengelolaan itu, masyarakat mengaku tidak lagi menerima hasil perkebunan.

 

Upaya warga mengambil kembali lahan kemudian berkembang menjadi konflik terbuka di lapangan.

 

"Persoalannya bukan sekadar tanaman sawit," kata Aziz.

 

Ia meminta pemerintah membuka secara terang dasar hukum penguasaan lahan yang kini menjadi sumber konflik.

 

Masyarakat Tuduh Agrinas Terlibat

 

Abdul Aziz juga menuding adanya keterlibatan PT Agrinas Palma Nusantara dalam penyerangan tersebut.

 

Namun, tudingan itu masih merupakan pernyataan dari pihak masyarakat dan belum dibuktikan melalui proses hukum.

 

Aziz mengaitkan dugaan tersebut dengan surat kuasa hukum Agrinas yang disebut telah dikirim kepada Polres Rokan Hulu pada 14 Agustus 2026.

 

"Kuat dugaan kami penyerangan itu didalangi oleh Agrinas," ujar Aziz.

 

Ia juga mempertanyakan dasar penguasaan lahan tersebut.

 

"Kami ingin tahu dasarnya Agrinas mengatakan itu lahannya apa?" katanya.

 

Masyarakat menyatakan akan membawa persoalan tersebut ke tingkat nasional dengan melaporkannya kepada Mabes Polri, DPR RI, dan pemerintah pusat.

 

Polisi Mulai Memburu Pelaku

 

Di sisi lain, kepolisian memastikan perkara tersebut tengah diselidiki.

 

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Hasyim Risahondua membenarkan adanya laporan terkait penyerangan tersebut.

 

Polisi kini memeriksa para korban dan saksi serta berupaya mengidentifikasi orang-orang yang terlibat.

 

"Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku," kata Hasyim, Minggu, 16 Agustus 2026.

 

Hingga kini, identitas pelaku belum diumumkan. Motif penyerangan juga masih didalami.

 

Sementara itu, konfirmasi kepada Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara terkait tudingan masyarakat belum memperoleh respons.

 

Artinya, dugaan keterlibatan perusahaan dalam penyerangan belum dapat dinyatakan sebagai fakta dan masih menunggu hasil penyelidikan aparat.

 

Kasus ini kini berada di persimpangan dua persoalan besar: dugaan kekerasan terhadap puluhan warga dan sengketa penguasaan lahan perkebunan yang telah berlangsung lama.

 

Polisi dituntut mengusut tuntas siapa pelaku penyerangan, siapa yang memerintahkan, serta apa motif di balik aksi tersebut.

 

Sebab, jika konflik lahan kembali diselesaikan dengan kekerasan, persoalan 2.000 hektare perkebunan itu berpotensi berubah menjadi konflik yang jauh lebih besar. (R-07)


TOPIK TERKAIT

# Konflik Lahan# Rokan Hulu# Tambusai Utara# Agrinas# Warga Terluka# Riau Akses
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Viral! Warga Rohul Geruduk Rumah Diduga Bandar Narkoba, Api Berkobar di Lokasi

    Hukum•
    Minggu, 10/05/2026 | 07:51 WIB
    RiauAkses.com, Rokan Hulu - Aksi warga di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, mendadak viral dan
  • Kabar Duka dari Rokan Hulu: Bocah 8 Tahun Hilang di Aliran Sungai Ngaso

    Riau•
    Sabtu, 10/01/2026 | 06:42 WIB
    RiauAkses.com, Rokan Hulu - Tim Basarnas Pekanbaru mendapatkan laporan kondisi membahayakan
  • Kado Akhir Tahun, 1.608 Tenaga Honorer Rokan Hulu Resmi Terima SK PPPK Paruh Waktu

    Riau•
    Rabu, 31/12/2025 | 14:51 WIB
    RiauAkses.com, Rokan Hulu  - ​Rona bahagia terpancar dari wajah 1.608 tenaga honorer di
  • Jembatan Sei Batang Lubuh 1 Siap Dibuka Kembali Hari Jumat, Pengecoran Akhir Selesai

    Riau•
    Selasa, 23/12/2025 | 16:54 WIB
    RiauAkses.com, Rokan Hilir – Perbaikan jalan expansion joint Jembatan Sei Batang Lubuh 1 yang
  • Momen Bencana Alam, Polisi Tangkap 2 Orang Pengangkut Kayu Diduga Ilegal di Rokan Hulu

    Hukum•
    Minggu, 07/12/2025 | 16:21 WIB
    RiauAkses.Com, Rokan Hulu - Ditreskrimsus Polda Riau mengamankan dua tersangka dugaan tindak
Banner Ramadhan TAF - P07

TRENDING

  • Ini Komoditas Bahan Pangan Indonesia yang Sangat Tergantung dengan Impor

    Ini Komoditas Bahan Pangan Indonesia yang Sangat Tergantung dengan Impor

    Minggu, 09/08/2026 | 23:40 WIB
  • Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, PT Agro Murni Salurkan Program CSR ke SMKN 4 Dumai

    Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, PT Agro Murni Salurkan Program CSR ke SMKN 4 Dumai

    Jumat, 14/08/2026 | 07:39 WIB
  • Minyak Habis, Sawit dan HTI Menghampar: Ke Mana Arah Ekonomi Riau di Usia 69 Tahun?

    Minyak Habis, Sawit dan HTI Menghampar: Ke Mana Arah Ekonomi Riau di Usia 69 Tahun?

    Minggu, 09/08/2026 | 23:35 WIB
  • Rp602 Miliar Mengalir ke Riau, Tapi APBD Masih Tercekik: Bengkalis Dapat Terbesar

    Rp602 Miliar Mengalir ke Riau, Tapi APBD Masih Tercekik: Bengkalis Dapat Terbesar

    Selasa, 11/08/2026 | 21:49 WIB
  • Puluhan Warga Dihajar di Kebun Sawit Rohul, Konflik 2.000 Hektare Berujung Berdarah

    Puluhan Warga Dihajar di Kebun Sawit Rohul, Konflik 2.000 Hektare Berujung Berdarah

    Minggu, 16/08/2026 | 11:45 WIB
  • 72,28 Juta Penduduk Bersinggungan dengan Kawasan Hutan, Pemerintah Didesak Segera Tuntaskan Konflik Agraria

    72,28 Juta Penduduk Bersinggungan dengan Kawasan Hutan, Pemerintah Didesak Segera Tuntaskan Konflik Agraria

    Selasa, 11/08/2026 | 21:31 WIB
  • Kapal TKI Tujuan Malaysia Karam di Perairan Rupat, 3 Orang Hilang

    Kapal TKI Tujuan Malaysia Karam di Perairan Rupat, 3 Orang Hilang

    Minggu, 16/08/2026 | 00:20 WIB
  • Riau Gelontorkan Rp97,7 Miliar untuk Jalan Mahato, Proyek 8,9 Km Segera Dikerjakan

    Riau Gelontorkan Rp97,7 Miliar untuk Jalan Mahato, Proyek 8,9 Km Segera Dikerjakan

    Jumat, 14/08/2026 | 07:48 WIB
Banner STMIK In Pekanbaru - P09
    • Ikuti Kami di:



  • Disclaimer     Kontak Kami     Tentang     Pedoman     Redaksi    

    RiauAkses.com - All Right Reserved
    Desain by : Aditya