Home / Nasional /
Ini Komoditas Bahan Pangan Indonesia yang Sangat Tergantung dengan Impor
Ini Komoditas Bahan Pangan Indonesia yang Sangat Tergantung dengan Impor, Foto: Istimewa
SabangMerauke News - Indonesia mulai memperkuat produksi pangan dalam negeri. Namun, di tengah upaya mencapai swasembada pangan, masih terdapat sejumlah komoditas yang kebutuhan domestiknya belum mampu dipenuhi sepenuhnya dari produksi dalam negeri.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Juni 2026 menyebut dari 11 komoditas pangan strategis, sebanyak delapan komoditas telah masuk kategori swasembada. Sementara tiga komoditas lainnya masih membutuhkan pasokan dari luar negeri, yakni kedelai, bawang putih, serta daging sapi dan kerbau.
Kedelai: Produksi Jauh di Bawah Kebutuhan
Kedelai menjadi salah satu komoditas dengan tingkat ketergantungan impor yang sangat tinggi.
Berdasarkan data yang disampaikan Bapanas pada Mei 2026, produksi kedelai dalam negeri diperkirakan hanya sekitar 240 ribu ton per tahun, sedangkan kebutuhan konsumsi nasional mencapai sekitar 2,7 juta ton.
Artinya, produksi domestik hanya berada di kisaran 9 persen dari kebutuhan, sementara sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih harus dipenuhi melalui pasokan dari luar negeri.
Ketergantungan ini menjadi penting karena kedelai merupakan bahan baku utama berbagai produk pangan masyarakat, terutama tahu dan tempe.
Bawang Putih: Produksi Domestik Masih Sangat Kecil
Bawang putih juga menjadi komoditas yang sangat bergantung pada impor.
Bapanas memperkirakan produksi bawang putih dalam negeri sekitar 23,5 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi mencapai sekitar 718,5 ribu ton per tahun.
Dengan perbandingan tersebut, produksi dalam negeri hanya sekitar 3 persen dari kebutuhan konsumsi.
Data terbaru Bapanas untuk 2026 juga menunjukkan ketergantungan tersebut masih berlangsung. Pemerintah menetapkan kuota impor bawang putih konsumsi sekitar 608,11 ribu ton, ditambah bawang putih olahan sekitar 67,73 ribu ton. Sementara produksi bawang putih dalam negeri diperkirakan sekitar 39,65 ribu ton dalam bentuk konde.
Kondisi ini membuat bawang putih menjadi salah satu komoditas pangan yang paling rentan terhadap perubahan pasokan dan harga dari pasar internasional.
Daging Sapi dan Kerbau Masih Defisit
Bapanas mencatat produksi daging sapi dan kerbau sekitar 610,9 ribu ton, sedangkan kebutuhan konsumsi mencapai sekitar 794,3 ribu ton per tahun.
Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 183,4 ribu ton antara produksi domestik dan kebutuhan konsumsi.
Produksi dalam negeri secara kasar hanya mampu memenuhi sekitar 77 persen kebutuhan, sehingga kekurangannya masih harus ditutup melalui berbagai sumber pasokan, termasuk impor.
Bukan Berarti Indonesia Bergantung Impor untuk Semua Pangan
Tingginya ketergantungan pada tiga komoditas tersebut tidak berarti seluruh pangan Indonesia bergantung pada impor.
Bapanas menyatakan dari 11 komoditas pangan strategis yang menjadi indikator, delapan komoditas telah mencapai kondisi swasembada. Pemerintah juga menyebut sejak 2025 Indonesia telah menghentikan impor beras umum dan jagung pakan dalam jumlah yang sebelumnya cukup besar.
Untuk beras, misalnya, Bapanas mencatat produksi 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi tahunan sekitar 31,16 juta ton. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menyatakan kebutuhan beras dapat dipenuhi dari produksi domestik.
BPS juga telah menyediakan publikasi konsumsi bahan pokok 2025 yang mencakup berbagai komoditas, mulai dari beras, jagung, kedelai, daging sapi dan kerbau, daging ayam, telur, bawang putih, gula, tepung terigu hingga garam.
Impor Sekitar 5 Persen dari 11 Pangan Strategis
Bapanas pada Juni 2026 menyebut total impor untuk tiga komoditas yang masih bergantung pada pasokan luar negeri—kedelai, bawang putih dan daging—sekitar 3,5 juta ton.
Sementara kebutuhan konsumsi untuk 11 pangan pokok strategis mencapai sekitar 68,7 juta ton per tahun. Berdasarkan perhitungan tersebut, porsi impor terhadap kebutuhan 11 komoditas tersebut berada di sekitar 5 persen.
Angka tersebut penting untuk dipahami secara tepat. Lima persen bukan berarti lima persen dari seluruh makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia berasal dari impor. Angka tersebut merupakan perbandingan impor tiga komoditas yang masih membutuhkan pasokan luar negeri terhadap kebutuhan 11 pangan pokok strategis yang digunakan dalam perhitungan Bapanas.
Dengan demikian, persoalan ketahanan pangan Indonesia saat ini lebih terlihat pada komoditas tertentu, bukan pada seluruh bahan pangan.
Kedelai, bawang putih, serta daging sapi dan kerbau menjadi tiga komoditas yang masih membutuhkan perhatian serius karena produksi domestiknya belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional.
Jika ketergantungan tersebut dapat ditekan melalui peningkatan produksi dalam negeri, Indonesia akan semakin terlindungi dari gejolak harga, gangguan rantai pasok global, serta perubahan kebijakan negara-negara pemasok pangan. (R-07)


Komentar Via Facebook :