Home / Riau /
Cahaya Lampion Terangi Selatpanjang, Perayaan Imlek Jadi Etalase Budaya dan Harmoni
Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili 2026, ribuan lampu lampion dan lampu hias menghiasi sejumlah sudut Kota Selatpanjang, ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto: SM News
RiauAkses.com, Kepulauan Meranti - Senja belum sepenuhnya turun ketika cahaya-cahaya merah mulai menyala di langit Kota Selatpanjang. Satu per satu lampion bergantungan di sepanjang ruas jalan utama, berayun pelan diterpa angin laut. Kota sagu itu pun berubah wajah lebih hangat, lebih semarak, dan penuh warna.
Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili 2026, ribuan lampu lampion dan lampu hias menghiasi sejumlah sudut Kota Selatpanjang, ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti. Warna merah mendominasi, berpadu dengan kuning keemasan dan aneka ornamen khas Tionghoa yang menggantung rapi di atas jalan. Pada malam hari, gemerlap cahaya itu memantul di aspal dan jendela toko, menciptakan panorama yang memikat siapa saja yang melintas.
Bukan sekadar dekorasi menyambut Imlek, kemeriahan lampion tersebut juga diperlombakan antar ruas jalan. Setiap kawasan berlomba menghadirkan kreasi terbaik—mulai dari bunga teratai, hingga karakter-karakter simbolik yang sarat makna keberuntungan. Perpaduan lampu hias dan lampion dengan warna seragam menciptakan harmoni visual yang memanjakan mata.
Tak heran, setiap malam warga tumpah ruah ke jalan. Anak-anak berlarian kecil di bawah rentetan lampu, remaja sibuk mengabadikan momen dengan gawai, sementara para orang tua duduk santai menikmati suasana. Lampion-lampion itu bukan hanya penerang, tetapi juga menjadi latar swafoto favorit yang menghiasi linimasa media sosial.
Festival Lampion di Kepulauan Meranti sendiri telah menjadi agenda pariwisata budaya tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, khususnya di Kota Selatpanjang. Ribuan lampion berwarna-warni dipasang di berbagai ruas jalan utama dan sudut kota, menghadirkan suasana yang semarak, terutama saat malam tiba.
Lebih dari sekadar perayaan keagamaan, festival ini juga menjadi etalase budaya yang memperkuat identitas Meranti sebagai daerah yang kaya akan keberagaman. Pemerintah daerah menjadikannya momentum untuk mempromosikan wisata budaya, menarik wisatawan lokal maupun mancanegara agar datang dan merasakan langsung atmosfer khas Imlek di kota pesisir tersebut.
Festival Lampion juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyambut tradisi Perang Air (Cian Cui), yang telah masuk dalam kalender pariwisata nasional Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Tradisi unik yang memadukan kegembiraan dan kebersamaan itu selalu dinanti, menjadikan Selatpanjang sebagai salah satu destinasi perayaan Imlek paling meriah di Indonesia.
Di bawah cahaya lampion yang bergelantungan, Selatpanjang tak hanya merayakan pergantian tahun. Ia merayakan harmoni antara budaya, tradisi, dan geliat pariwisata yang terus tumbuh. Sebab di setiap cahaya yang menyala, tersimpan harapan akan tahun yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Kepulauan Meranti.
Malam itu, cahaya lampion juga memantul lembut di wajah-wajah warga yang memadati halaman Sekolah Kasih Maitreya, Jalan Teladan, Selatpanjang. Suasana hangat dan penuh warna menyelimuti pembukaan Festival Lampion Tahun 2026 yang secara resmi dibuka oleh Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, Minggu (15/2/2026) malam.
Di bawah langit Selatpanjang yang cerah, deretan lampion menyala serempak, seolah menjadi penanda dimulainya sebuah perayaan yang bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga sarat makna. Dalam sambutannya, Bupati Asmar menegaskan bahwa Festival Lampion bukan hanya perayaan visual tahunan, melainkan refleksi akulturasi budaya yang telah lama mengakar kuat di tengah masyarakat multietnis Kepulauan Meranti.
“Tradisi ini sangat kaya akan nilai budaya, di mana masyarakat Tionghoa di Kepulauan Meranti dan sekitarnya dapat merayakan tahun baru mereka dengan penuh sukacita dan kebersamaan,” ujar Asmar di hadapan ratusan warga yang hadir.
Menurutnya, festival ini juga menjadi simbol kuat toleransi dan keharmonisan antarumat beragama serta antar suku bangsa yang hidup berdampingan di daerah kepulauan tersebut. Cahaya lampion yang berwarna-warni bukan hanya menghiasi kota, tetapi juga menjadi simbol persatuan dalam keberagaman.
Tak berhenti pada nilai budaya, Asmar menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif melalui event-event berbasis budaya lokal.
“Kami ingin festival seperti ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan dan penggerak ekonomi,” ungkapnya.
Ia berharap ramainya wisatawan yang datang selama Festival Lampion dan rangkaian perayaan Imlek dapat memberikan dampak nyata bagi perputaran ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, mulai dari pedagang kuliner, pengrajin, hingga pelaku usaha penginapan.
“Mari kita tunjukkan kepada dunia luar bahwa Selatpanjang adalah kota yang ramah, bersih, dan layak untuk dikunjungi berkali-kali,” kata Asmar penuh optimisme.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Kepulauan Meranti memiliki keunikan tersendiri. Keberagaman suku dan agama bukanlah pemisah, melainkan tenunan indah yang justru memperkuat pondasi sosial masyarakat.
“Malam ini, lampion-lampion yang bersinar melambangkan harapan kita semua agar Meranti terus menjadi daerah yang terang, aman, dan damai bagi seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kepulauan Meranti menyampaikan bahwa Festival Lampion Tahun 2026 diikuti oleh tujuh peserta atau tujuh titik lokasi yang tersebar di Kota Selatpanjang. Masing-masing titik menampilkan kreativitas dan kekhasan tersendiri dalam balutan cahaya lampion.
Dalam pelaksanaannya, dinas terkait menggandeng event organizer dari Koperasi PWI Kepulauan Meranti untuk memastikan festival berjalan tertib, meriah, dan memberikan pengalaman terbaik bagi masyarakat serta wisatawan.
Di bawah cahaya lampion yang terus menyala hingga larut malam, Festival Lampion 2026 pun resmi dimulai menjadi penanda semangat kebersamaan, toleransi, dan harapan baru bagi Kepulauan Meranti.
Cahaya lampion yang menggantung di sepanjang ruas jalan Selatpanjang tak hanya memikat wisatawan, tetapi juga menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat setempat. Di tengah semarak Tahun Baru Imlek itu turut dirasakan anggota DPRD Kepulauan Meranti, Cun Cun.
Politisi PDI Perjuangan tersebut menilai suasana Imlek tahun Kuda Api kali ini jauh lebih meriah dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu lampion hanya menghiasi beberapa titik, kini hampir seluruh ruas jalan utama di Kota Selatpanjang dipenuhi warna merah dan cahaya keemasan. Jumlah warga Tionghoa yang memasang lampion pun disebutnya meningkat signifikan.
“Persiapan Imlek tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Tahun ini lebih banyak jalan-jalan yang membuat hiasan lampion sehingga terlihat lebih ramai dan lebih bagus dibandingkan tahun lalu. Kalau kita lihat persiapannya sampai hari ini, jauh lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Bagi Cun Cun, semarak lampion bukan sekadar hiasan musiman. Ia mencerminkan semangat kebersamaan dan optimisme masyarakat dalam menyambut tahun baru. Kota yang dikenal sebagai kota sagu itu seolah berubah menjadi lautan cahaya saat malam tiba, menghadirkan suasana hangat yang menyatukan warga lintas suku dan agama.
Momentum ini pun dimanfaatkan Cun Cun untuk mengajak warga Tionghoa asal Meranti yang berada di luar daerah agar pulang kampung dan merasakan langsung kemeriahan Imlek di tanah kelahiran. Menurutnya, perayaan Imlek di Selatpanjang memiliki daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di daerah lain.
“Kami sangat mengharapkan masyarakat yang ada di luar bisa pulang untuk merasakan kemeriahan. Apalagi ada festival Perang Air yang tidak ada di kabupaten atau kota lain di Indonesia bahkan dunia. Kalau pun ada di Thailand, itu hanya satu hari. Kalau di Selatpanjang sampai enam hari,” tuturnya penuh semangat.
Ia juga mengajak masyarakat luar Meranti dan wisatawan untuk datang menikmati suasana khas Imlek di Selatpanjang. Selain Festival Lampion yang memukau, tradisi Perang Air atau Cian Cui menjadi magnet utama yang selalu dinanti setiap tahunnya.
Di tengah gemerlap lampion dan riuh tawa warga, Selatpanjang kembali membuktikan diri sebagai salah satu pusat perayaan Imlek paling semarak di Indonesia. Bagi Cun Cun, kemeriahan ini bukan hanya tentang tradisi, tetapi juga tentang identitas, kebersamaan, dan peluang besar bagi daerah untuk terus berkembang melalui sektor pariwisata budaya. (R-01)
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
Bersih-Bersih Jelang Ramadan: Polresta Pekanbaru Obrak-Abrik Kampung Dalam, 4 Orang Positif Narkoba
RiauAkses.com, Pekanbaru – Memasuki hitungan hari menuju bulan suci Ramadan, Satuan ReserseTNI-Polri dan Tim Gabungan Berjibaku Padamkan 10 Hektare Lahan Gambut di Rupat
RiauAkses.com, Bengkalis - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hebat kembali melanda wilayahBI Buka Penukaran Uang Hari Raya Idulfitri 2026, Begini Caranya
RiauAkses.com, Pekanbaru - Saat Ramadhan 1447 Hijriah, yang dicari banyak orang selain tiket mudikPeran RT dan RW Diperkuat, Pemko Siapkan Kenaikan Honor
RiauAkses.com, Pekanbaru - Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM memaparkan berbagai capaianPKS PT Sahabat Sawit Rokan Sejahtera, Goro Bersihkan Masjid dan Mushola Sambut Ramadan 1447 H
RiauAkses.com, Rokan Hilir – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, pihak







Komentar Via Facebook :