Home / Riau /
Tradisi, Toleransi, dan Multiplier Effect: Festival Perang Air Kepulauan Meranti Tetap Digelar di Ramadan
Rapat bersama yang digelar Kamis (15/1/2026), Pemkab mengundang berbagai pihak mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi vertikal, hingga organisasi dan komunitas terkait, yang membahas tentang perayaan agenda besar di Kepulauan Meranti. Foto: SM News
RiauAkses.com, Kepulauan Meranti - Dua agenda besar yang sama-sama dinanti masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti pada tahun 2026 sempat berada di persimpangan waktu. Perang Air sempena Perayaan Imlek 2577 Kongzili dan Bazar Ramadan 1447 Hijriah berpotensi berbenturan, bukan hanya secara kalender, tetapi juga ruang dan aktivitas masyarakat.
Perayaan Imlek sendiri jatuh pada 17 Februari 2026. Sehari setelahnya, tepat pada 18 Februari 2026, umat Islam mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Dua momentum besar lintas budaya dan agama ini nyaris beririsan, memunculkan kekhawatiran akan terganggunya salah satu agenda yang telah menjadi tradisi tahunan.
Namun, kekhawatiran itu akhirnya dijawab dengan sikap bijak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Melalui rapat bersama yang digelar Kamis (15/1/2026), Pemkab mengundang berbagai pihak mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi vertikal, hingga organisasi dan komunitas terkait, guna mencari solusi terbaik.
Dari forum tersebut, disepakati bahwa event Perang Air atau Cian Cui tetap dilaksanakan, tanpa mengganggu pelaksanaan Bazar Ramadan. Keputusan ini menjadi simbol bagaimana keberagaman dapat dikelola dengan dialog dan saling pengertian, tanpa harus mengorbankan tradisi salah satu pihak.
Sebelumnya, banyak pihak menyangsikan bahwa dua agenda ini dapat berjalan berdampingan. Pasalnya, Perang Air dan Bazar Ramadan selama ini menggunakan jalur dan ruas jalan yang sama, khususnya di pusat Kota Selatpanjang. Kondisi ini sempat dinilai akan menjadi persoalan tersendiri yang sulit dipecahkan.
Di Kota Selatpanjang, Perang Air setiap perayaan Imlek bukanlah agenda biasa. Event ini digelar enam hari berturut-turut dan dikenal sebagai perang air terbesar di dunia setelah Songkran di Thailand. Tradisi ini telah menjadi identitas budaya sekaligus magnet pariwisata Kepulauan Meranti.
Setiap perayaan Imlek, puluhan ribu wisatawan memadati Selatpanjang. Mereka datang tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Alasan utama kedatangan para wisatawan itu adalah untuk menyaksikan dan terlibat langsung dalam kemeriahan Perang Air.
Perang Air digelar setiap sore, mulai pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB, dengan rute yang melintasi Jalan Kartini, Jalan Imam Bonjol, Jalan Ahmad Yani, Jalan Tebingtinggi, hingga Jalan Diponegoro. Jalur ini menjadi pusat keramaian, tumpahan air, dan kegembiraan yang menyatukan ribuan orang tanpa sekat.
Di sisi lain, setiap memasuki bulan suci Ramadan, Jalan Ahmad Yani secara tradisional dijadikan pusat Bazar Ramadan. Di kawasan ini, para pelaku UMKM menjajakan aneka takjil dan kuliner khas berbuka puasa, menjadi denyut ekonomi rakyat selama satu bulan penuh.
Keputusan Pemkab Kepulauan Meranti untuk mengatur agar kedua agenda tetap berjalan berdampingan mencerminkan wajah Selatpanjang yang sesungguhnya bahwa kota kecil dengan keberagaman besar, tempat tradisi budaya dan nilai religius saling menghormati, tanpa harus saling meniadakan.
Di tengah potensi benturan, yang muncul justru harmoni—sebuah pesan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirangkai menjadi kekuatan bersama.
Di tengah kekhawatiran akan benturan dua agenda besar lintas budaya dan agama, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti akhirnya mengambil sikap yang meneduhkan. Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, menegaskan bahwa keputusan tetap digelarnya Perang Air di tengah awal Ramadan bukanlah keputusan sepihak, melainkan hasil dari koordinasi dan kesepakatan bersama berbagai pihak.
Dalam wawancaranya, Bupati Asmar menyampaikan bahwa rapat koordinasi telah membahas secara mendalam dua agenda besar yang berlangsung hampir bersamaan tersebut. Dari forum itu, disepakati bahwa Perang Air tetap dilaksanakan, sementara pengaturan teknis di lapangan diserahkan kepada pihak kepolisian.
“Setelah dilakukan rapat bersama pihak terkait terhadap dua agenda besar yang waktunya bersamaan ini, Alhamdulillah semua sepakat untuk Perang Air tetap dilaksanakan,” kata Bupati Asmar.
Rapat tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kepulauan Meranti Khalid Ali, Wakapolres Kepulauan Meranti Kompol Detis Mayer Silitonga, Ketua LAMR, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta instansi vertikal seperti KSOP, Pelindo, PSMTI, dan unsur terkait lainnya. Kehadiran lintas lembaga ini menjadi penanda bahwa keputusan diambil secara kolektif dan mempertimbangkan berbagai kepentingan masyarakat.
Bupati Asmar menjelaskan, salah satu poin krusial yang dibahas adalah penggunaan Jalan Ahmad Yani. Jalan tersebut selama ini menjadi lokasi Bazar Ramadan, sekaligus jalur utama peserta Perang Air yang berkeliling menggunakan becak motor. Untuk menghindari tumpang tindih aktivitas, disepakati bahwa lokasi Bazar Ramadan dipindahkan ke tempat yang tidak jauh dari lokasi semula.
Adapun lokasi baru Bazar Ramadan berada di Taman Cik Puan Jalan Merdeka, serta meluas ke kawasan sekitarnya seperti Jalan DI Pandjaitan, Jalan Teuku Umar, dan Jalan Mesjid. Kawasan ini dinilai strategis dan mampu menampung aktivitas pedagang maupun pengunjung.
“Lokasi Bazar Ramadan dipindahkan tidak jauh dari tempat semula. Tempatnya juga cukup strategis karena jalannya satu arah, sehingga masyarakat bisa berkeliling membeli takjil. Teknis pengaturannya nanti bisa diatur oleh Satlantas Polres. Kita berharap ini bisa sama-sama berjalan tanpa menyinggung satu sama lain,” ujar Asmar.
Lebih jauh, Bupati Asmar menekankan bahwa pelaksanaan Perang Air di awal Ramadan justru membawa dampak positif yang langsung dirasakan masyarakat. Aktivitas tersebut memberikan perputaran ekonomi bagi pelaku usaha kecil, mulai dari pedagang makanan, tukang becak, ojek, hingga pemilik warung.
“Dampak positif Perang Air ini bisa langsung dirasakan masyarakat Meranti. Penjual makanan, becak, ojek, dan warung semuanya bergerak. Ditambah lagi dengan bulan puasa, dimana banyak jenis makanan yang dijajakan,” jelasnya.
Menurut Asmar, kebijakan ini sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, yakni Unggul, Agamis, dan Sejahtera. Nilai agamis, kata dia, bukanlah tentang meniadakan perbedaan, melainkan menyatukan keberagaman agar tidak saling bersinggungan.
“Sesuai visi dan misi kami, unggul agamis sejahtera. Agamis itu menyatukan agama tanpa bersinggungan satu sama lain. Kita juga sangat mengharapkan saran dan kritik, karena kita ingin membangun Meranti menjadi lebih baik lagi,” tegasnya.
Keputusan ini pun menjadi cermin wajah Selatpanjang—sebuah kota kecil dengan toleransi besar, dimana tradisi budaya dan nilai keagamaan berjalan beriringan, saling menghormati, dan sama-sama memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Sementara itu, Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kepulauan Meranti menyampaikan kabar menggembirakan bagi dunia pariwisata daerah. Tahun ini, event Perang Air (Cian Cui) telah lolos tahap kurasi dan diproyeksikan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), program strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Masuknya Perang Air ke dalam KEN menandai pengakuan nasional terhadap kekuatan event budaya yang telah lama menjadi identitas Kepulauan Meranti. Saat ini, Disporapar menyebutkan bahwa pengumuman resmi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan segera disampaikan dalam waktu dekat.
Penetapan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan citra pariwisata, tetapi juga memperkuat posisi Festival Perang Air sebagai penggerak utama ekonomi lokal. Setiap perayaan Imlek, denyut ekonomi Kepulauan Meranti meningkat signifikan, didorong oleh ramainya kunjungan wisatawan serta aktivitas bazar dan perdagangan masyarakat.
Perputaran uang selama perayaan Imlek di Selatpanjang tercatat sangat besar. Festival Perang Air yang dipadukan dengan bazar rakyat mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perhotelan, kuliner, transportasi, jasa becak dan ojek, hingga pelaku UMKM dan kerajinan tangan. Meski angka perputaran bervariasi setiap tahun, potensi ekonomi yang tercipta disebut mencapai miliaran rupiah per hari, bahkan akumulatifnya dapat menembus puluhan miliar rupiah selama rangkaian perayaan berlangsung.
Sejumlah laporan pada tahun-tahun sebelumnya menyebutkan, perputaran uang harian saat puncak perayaan Imlek dapat berada di kisaran Rp3 hingga Rp5 miliar per hari, bahkan lebih tinggi pada tahun-tahun tertentu. Salah satu laporan lama mencatat potensi perputaran ekonomi hingga Rp90 miliar selama periode perayaan, mencerminkan besarnya dampak ekonomi dari festival tersebut bagi daerah.
Festival Perang Air sendiri dikenal mampu menarik ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Kehadiran wisatawan ini memberikan efek berganda (multiplier effect) yang nyata, memperpanjang lama tinggal, meningkatkan tingkat hunian hotel, serta mendorong konsumsi di sektor kuliner dan jasa.
Dengan masuknya Perang Air dalam kurasi KEN, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti berharap promosi event ini semakin luas, dukungan anggaran dan pembinaan semakin kuat, serta manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.
Bagi Kepulauan Meranti, Festival Perang Air bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga simbol kebersamaan, toleransi, dan harapan bahwa dari tradisi lokal, kesejahteraan masyarakat dapat terus tumbuh dan mengalir, seperti air yang menjadi ciri khas perayaan itu sendiri. (R-01)
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
Setelah Mangkrak Lebih dari Satu Dekade, Proyek Dorak Meranti Dipastikan Dibangun Kembali dengan APBN
RiauAkses.com, Kepulauan Meranti - Setelah lebih dari satu dekade mangkrak, proyek pembangunanMembayar Hak ASN dan PPPK: Merawat Kepercayaan dan Langkah Kecil Pemkab Kepulauan Meranti Menyulam Kesejahteraan Pegawai
RiauAkses.com, Kepulauan Meranti - Memasuki awal tahun 2026, angin segar akhirnya berembus bagiSagu Terbaik Dunia yang Lepas dari Rumahnya: Ketika Kepulauan Meranti Gagal Merebut PSN Hilirisasi
RiauAkses.com, Kepulauan Meranti - Potensi telah lama tersedia, sumber daya melimpah terhampar diTragedi di Tengah Tugas: Tim SAR Kepulauan Meranti Hadapi Gelombang Empat Meter Usai Evakuasi Jenazah di Selat Malaka
RiauAkses.com, Kepulauan Meranti - Operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR) yangKolaborasi Merawat Merbau: FKKD Bangun Komunikasi, PT ITA Perbaiki Jalan Sepanjang 12 Kilometer
RiauAkses.com, Kepulauan Meranti - Di tengah badai efisiensi anggaran yang kini menjadi istilah







Komentar Via Facebook :