https://www.riauakses.com

  • Beranda
  • Pilihan
  • Riau
  • Lancang Kuning
    • Pekanbaru
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Kampar
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Rokan Hulu
    • Rokan Hilir
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Kepulauan Meranti
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Politik
  • Hukum
  • Dunia
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lingkungan
    • Sumber Daya Alam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Video

  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Tentang
  • Pedoman
  • Redaksi

https://www.riauakses.com

Iklan Atas

https://www.riauakses.com

  • ";
  • Riau
  • Lancang Kuning
    • Pekanbaru
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Kampar
    • Siak
    • Indragiri Hulu
    • Indragiri Hilir
    • Rokan Hulu
    • Rokan Hilir
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Kepulauan Meranti
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Politik
  • Hukum
  • Dunia
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lingkungan
    • Sumber Daya Alam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Video

Terbaru

Trending

Pilihan

Video

Home / Riau /

Tabir Mayat Mr X Terdampar di Tanjung Kedabu Terbuka, Seorang Warga Malaysia Diduga Terjun dari Jembatan Second Link Johor

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:14 WIB  
Editor : Ali Imran
Tabir Mayat Mr X Terdampar di Tanjung Kedabu Terbuka, Seorang Warga Malaysia Diduga Terjun dari Jembatan Second Link Johor

Identitas mayat Mr. X yang sebelumnya ditemukan terapung di perairan Desa Tanjung Kedabu, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, akhirnya mulai menemui titik terang.  Foto : Istimewa

RiauAkses.Com, Selatpanjang - Identitas mayat Mr. X yang sebelumnya ditemukan terapung di perairan Desa Tanjung Kedabu, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, akhirnya mulai menemui titik terang. 

Jasad  laki-laki yang sempat mengundang tanda tanya itu kini tidak lagi sepenuhnya misterius, setelah serangkaian pemeriksaan awal dan pengumpulan petunjuk dilakukan oleh pihak berwenang.

Sebelumnya, sesosok jasad laki-laki ditemukan warga dalam kondisi tak bernyawa, Jumat (2/1/2026), di tepi laut Jalan Pelantar RT 001/RW 002, Dusun I, Desa Tanjung Kedabu. Tubuh korban diketahui terbawa arus kuat Selat Malaka, terombang-ambing di perairan hingga akhirnya terdampar tepat di bawah jalan pelantar yang kerap dilalui warga setempat.

Penemuan itu sontak menghebohkan warga setempat. Lokasi yang biasanya menjadi jalur aktivitas nelayan dan masyarakat itu berubah sunyi, dipenuhi rasa penasaran dan keprihatinan. Warga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada aparat desa dan pihak berwenang.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD Kepulauan Meranti, Basarnas, kepolisian, tenaga kesehatan, serta dibantu masyarakat setempat, bergerak cepat melakukan evakuasi. Jasad korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti di Selatpanjang untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut guna mengetahui identitas serta penyebab kematian.

Meski pada saat ditemukan korban tidak membawa identitas diri, sejumlah petunjuk awal yang melekat pada tubuh korban menjadi bahan penyelidikan. Pakaian yang dikenakan, barang-barang pribadi yang ditemukan, serta lokasi penemuan yang berada di jalur perairan internasional Selat Malaka, membuka kemungkinan bahwa korban bukan berasal dari wilayah setempat.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman, termasuk berkoordinasi dengan instansi terkait serta membuka ruang bagi masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk melapor. Proses identifikasi dan penyelidikan terus berjalan guna memastikan identitas korban secara pasti serta mengungkap kronologi kejadian yang sebenarnya.

Tabir misteri terkait identitas jenazah Mr. X yang ditemukan terapung di perairan Pulau Rangsang itu akhirnya mulai tersibak. Kepastian itu diperoleh setelah dilakukan koordinasi lintas negara antara tim SAR Kepulauan Meranti dengan otoritas maritim Johor Bahru, Malaysia.

Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Herrie, mengungkapkan bahwa titik terang tersebut didapat melalui komunikasi intensif dengan pihak Maritim Johor Bahru. Proses itu bermula ketika tim SAR di Kepulauan Meranti melaporkan penemuan mayat tanpa identitas yang dievakuasi dari perairan Desa Tanjung Kedabu, Pulau Rangsang.

“Sejak awal kami membuka komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk otoritas maritim di negara tetangga. Kami menyampaikan bahwa telah ditemukan satu jenazah laki-laki tanpa identitas yang terapung di perairan Pulau Rangsang,” ujar Prima Herrie.

Koordinasi tersebut membuahkan hasil. Berdasarkan ciri-ciri fisik, pakaian, serta petunjuk yang ditemukan pada tubuh korban, pihak Maritim Johor Bahru mengonfirmasi bahwa jenazah tersebut identik dengan satu orang yang sebelumnya dilaporkan hilang di kawasan Tanjung Piai, Johor Bahru.

Dalam laporan yang diterima, korban diketahui merupakan seorang warga negara Malaysia yang dilaporkan terjun ke laut di wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Insiden itu terjadi di sekitar Jambatan Second Link Tuas Johor, jalur penghubung strategis antara Malaysia dan Singapura. Hingga kini, motif korban terjun ke laut masih belum diketahui secara pasti.

“Setelah koordinasi intens, akhirnya kami mendapat kepastian bahwa jenazah Mr. X adalah orang yang sedang dicari oleh otoritas Malaysia. Korban merupakan warga negara Malaysia,” jelas Prima Herrie.

Korban tersebut diketahui bernama Teh Kok Keong ( 33). Dimana ia diketahui karyawan Tower Transit yakni nama perusahaan operator bus internasional yang saat ini beroperasi di Singapura. Hal itu diketahui dari Jacket yang dipakai korban yang bertuliskan label tersebut.

Dalam maklumat resmi dari Maritime Rescue Sub-Centre (MRSC) Johor Bahru, disebutkan bahwa korban adalah seorang lelaki keturunan Tionghoa, warga negara Malaysia, yang dilaporkan terjun dari Jembatan Second Link Tuas–Johor pada beberapa waktu sebelumnya.

Bisa dipastikan mayatnya hanyut mengikuti arus Selat Malaka. Namun demikian itu tidak bisa diprediksi kondisi sebenarnya seperti apa, mengingat jarak laut dari Pulau Rangsang ke Johor Bahru, Malaysia, adalah sekitar 25-35 mil laut  atau sekitar 46-65 km. 

 

Disampaikan Prima, dalam laporan resmi yang dikeluarkan oleh MRSC Johor Bahru, kronologi awal insiden bermula pada 28 Desember 2025, tepat pukul 20.50 WIB. Pada waktu tersebut, pihak MRSC menerima laporan awal kejadian dari NG MERS 999. Saat laporan diterima, kondisi cuaca di perairan terpantau kurang bersahabat, dengan kecepatan angin berkisar 20 hingga 30 kilometer per jam, ketinggian gelombang 1,0 hingga 1,5 meter, serta aktivitas petir yang terjadi di sejumlah titik perairan.

Menindaklanjuti laporan tersebut, pada pukul 21.00 WIB, MRSC Johor Bahru segera menyampaikan informasi kepada Search Mission Coordinator (SMC) dan langsung mengerahkan aset laut Perkasa 42 menuju lokasi kejadian untuk melakukan pencarian awal.

Tak berselang lama, pada pukul 21.05 WIB, operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) resmi diaktifkan. Selanjutnya, pada pukul 21.10 WIB, MRSC Johor Bahru mengirimkan kawat informasi awal kejadian disertai Formulir G3 MSAR kepada Maritime Rescue Coordination Centre (MRCC) Putrajaya sebagai bagian dari prosedur koordinasi nasional.

Pada pukul 21.20 WIB, kapal Perkasa 42 tiba di lokasi kejadian dan langsung melaksanakan upaya pencarian awal di sekitar titik insiden. Upaya tersebut terus diperkuat dengan koordinasi lintas instansi. Pada pukul 22.00 WIB, MRSC Johor Bahru menerbitkan Formulir Permohonan Bantuan Aset yang kemudian didistribusikan kepada sejumlah instansi dan agensi mitra terkait guna memperluas jangkauan pencarian.

Koordinasi internasional pun dilakukan. Pada pukul 23.30 WIB, kawat permohonan pemberitahuan kepada pihak Singapura disampaikan melalui MRCC Putrajaya untuk ditindaklanjuti, mengingat lokasi kejadian berada di jalur perairan strategis yang berdekatan dengan wilayah negara tersebut.

Memasuki hari berikutnya, 29 Desember 2025 pukul 07.30 WIB, Search Action Plan (SAP) resmi diterbitkan dan didistribusikan kepada seluruh agensi mitra yang terlibat dalam operasi SAR. Lima menit berselang, tepat pukul 07.35 WIB, informasi NAVTEX diteruskan kepada Bagian Komunikasi Maritim Jabatan Laut Malaysia untuk disiarkan sebagai peringatan keselamatan pelayaran.

Sebagai pusat kendali lapangan, Posko Komando Lapangan (PHC) kemudian didirikan di Pendas Floating Restaurant, Gelang Patah, Johor Bahru, guna memastikan koordinasi, komunikasi, dan pengendalian operasi SAR berjalan efektif dan terintegrasi.

Lebih lanjut, Prima menyampaikan bahwa pihak MRSC Johor Bahru menegaskan kasus tersebut berada dalam kewenangan kepolisian setempat. Atas dasar itu, hasil koordinasi dan temuan yang diperoleh kemudian diteruskan kepada aparat penegak hukum di Indonesia, dalam hal ini Polsek Rangsang, untuk penanganan lebih lanjut.

Menurut Prima, informasi terkait identitas jenazah tersebut juga telah disampaikan kepada pihak keluarga korban. Istri korban, Lim Hoi Ting, disebut telah cukup lama mencari keberadaan suaminya sebelum akhirnya mendapat kepastian melalui hasil koordinasi lintas negara tersebut.

“Kasus ini sudah masuk dalam ranah pihak kepolisian setempat. Sejak awal, tugas kami hanya sebatas melakukan koordinasi dan komunikasi. Selanjutnya, seluruh proses penanganan kami serahkan kepada Polsek Rangsang,” ujar Prima menegaskan.

Dengan disampaikannya informasi ini kepada pihak keluarga dan aparat berwenang, proses identifikasi dan penanganan jenazah kini memasuki tahap lanjutan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Koordinasi lintas negara yang dilakukan juga menjadi bukti pentingnya kerja sama antarinstansi dalam menangani insiden kemanusiaan di wilayah perairan perbatasan.

 

Sebelumnya diberitakan, tidak ada ditemukan identitas diri yang melekat pada tubuh korban, sejumlah petunjuk awal secara kasat mata mulai menjadi perhatian petugas dan masyarakat. Petunjuk-petunjuk ini belum dapat disimpulkan sebagai fakta, namun menjadi bahan pendalaman dalam proses penyelidikan.

Lokasi penemuan jasad yang berada di perairan Selat Malaka menjadi salah satu perhatian. Kawasan tersebut diketahui merupakan jalur pelayaran internasional yang terhubung langsung dengan Selat Singapura. Kondisi ini membuka kemungkinan bahwa jasad korban terbawa arus laut dari wilayah perairan lain sebelum akhirnya terdampar di pesisir Desa Tanjung Kedabu.

Selain lokasi, pakaian yang dikenakan korban juga menimbulkan dugaan awal. Jaket bertuliskan Tower Transit yang dipakai korban diketahui merupakan nama perusahaan operator bus internasional yang saat ini beroperasi di Singapura. Namun demikian, pihak kepolisian menegaskan bahwa atribut tersebut belum bisa dijadikan dasar untuk memastikan asal-usul atau profesi korban.

Petunjuk lain yang turut dicermati adalah rokok merek Mevius yang ditemukan di tubuh korban. Merek tersebut memang dikenal cukup populer di kalangan warga asing, termasuk ekspatriat yang bekerja dan tinggal di Singapura. Meski demikian, temuan ini masih bersifat indikatif dan belum mengarah pada kesimpulan apa pun.

Peristiwa ini sekaligus menjadi bukti eratnya kerja sama kemanusiaan antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam penanganan insiden di wilayah perairan perbatasan yang menjadi jalur sibuk aktivitas internasional.

Di balik arus Selat Malaka yang tak pernah berhenti, kisah pilu ini akhirnya menemukan jawabannya—sebuah akhir dari pencarian, meski menyisakan duka bagi keluarga yang ditinggalkan.

Peristiwa ini menjadi pengingat betapa perairan Selat Malaka bukan hanya jalur ekonomi dan pelayaran internasional, tetapi juga menyimpan kisah-kisah kemanusiaan yang kadang berakhir pilu, terdampar di tepian kampung nelayan yang sunyi. (R-03)


TOPIK TERKAIT

# Mayat di selatpanjang# Penemuan mayat mangapung# Kepulauan meranti# RiauAkses
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

  • Wako Pekanbaru Turun Langsung dalam Goro Pemulihan Pasca Musibah Kebakaran Asrama Pancasila

    Riau•
    Jumat, 02/01/2026 | 19:27 WIB
    RiauAkses.com, Pekanbaru - Wali Kota (Wako) Pekanbaru, Agung Nugroho turun langsung turut
  • Dampak Pembukaan Pintu Waduk PLTA Koto Panjang, Permukaan Sungai Kampar Naik 20 Cm

    Riau•
    Jumat, 02/01/2026 | 18:50 WIB
    RiauAkses.com, Kampar - Pembukaan pintu pelimpah Waduk PLTA Koto Panjang mulai
  • Gajah Muda Nusantara (GMN) Kota Pekanbaru, Bangun Posko Air Bersih Gratis, Pikul Logistik Jalan Kaki ke Lokasi Bencana di Batu Busuk Padang

    Riau•
    Jumat, 02/01/2026 | 17:43 WIB
    RiauAkses.com, Pekanbaru - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gajah Muda Nusantara (GMN) Kota Pekanbaru
  • Doa Bersama Lintas Agama, Momentum Perkuat Kerukunan Umat di Riau

    Riau•
    Jumat, 02/01/2026 | 16:41 WIB
    RiauAkses.com, Kuantan Singingi - Mengawali rangkaian kegiatan Jalan Santai dalam rangka
  • Gerakan Pramuka Kwarcab Rohul Gelar Rapat Kerja Cabang Perdana, Menjadi Momen Evaluasi dan Bahas Proker Lebih Baik Untuk Tahun Berikutnya

    Riau•
    Jumat, 02/01/2026 | 15:18 WIB
    RiauAkses.com, Rokan Hulu - Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Rokan Hulu (Rohul) gelar
Banner Ramadhan TAF - P07

TRENDING

  • Sidang Pengujian UU KUHAP, MK Minta DPR Perjelas Tafsir Definisi Advokat dalam KUHAP, Pemerintah Minta Tunda Beri Keterangan

    Sidang Pengujian UU KUHAP, MK Minta DPR Perjelas Tafsir Definisi Advokat dalam KUHAP, Pemerintah Minta Tunda Beri Keterangan

    Rabu, 20/05/2026 | 14:31 WIB
Banner STMIK In Pekanbaru - P09
    • Ikuti Kami di:



  • Disclaimer     Kontak Kami     Tentang     Pedoman     Redaksi    

    RiauAkses.com - All Right Reserved
    Desain by : Aditya